PORTAL PURWOKERTO– Mendekati perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-80, film animasi Merah Putih One For All muncul tetapi segera mendapat kritikan dari netizen.
Bahkan film yang menceritakan kisah petualangan anak-anak terasa seperti karya dari anak TK yang dibuat secara terburu-buru karena tenggat waktu yang mendesak.
Film ini mengisahkan petualangan anak-anak dari berbagai suku yang berupaya memulihkan bendera pusaka yang hilang.
Berdasarkan trailer yang telah dikeluarkan, film ini justru mendapat kritikan keras dari masyarakat dan para pelaku industri kreatif.
1. Tampilan yang Tidak Sesuai dengan Ekspektasi
Netizen sepakat bahwa animasi dalam film ini terlihat kaku, kurang ekspresif, dan monoton, seakan belum selesai diproses.
Beberapa di antaranya membandingkannya dengan kualitas grafis game pada masa PlayStation 2.
Belum lagi masalah penggunaan aset siap pakai—seperti latar atau tokoh dari Daz3D atau Reallusion—yang dinilai murah dan tidak mampu menciptakan kesan eksklusif khas lokal.
Beberapa netizen memperhatikan detail seperti suara burung kakak tua yang terdengar mirip dengan kera, serta latar yang masih menyimpan tulisan dalam bahasa Hindi, seolah-olah lupa diubah
2. Produksi yang Tergesa-gesa
Proses pembuatan film ini dilaporkan hanya berlangsung kurang dari satu hingga dua bulan, sebagai bentuk upaya mengejar momen perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.
Untuk sebuah film animasi, durasi produksi yang begitu singkat jelas dianggap terlalu cepat.
Bahkan sutradara Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa anggaran sekitar Rp 6 miliar baru berada pada tahap previsualisasi dan jauh dari standar produksi yang profesional, yang bisa mencapai Rp 30–40 miliar dan membutuhkan waktu 4–5 tahun.
3. Narasi yang Sering dan Terlalu Kaku
Keinginan untuk menyampaikan pesan nasional memang patut dihargai, tetapi pelaksanaannya dinilai terlalu membosankan, biasa saja, dan terkesan mengajarkan.
Banyak pendapat mengatakan ceritanya lebih mirip dengan iklan layanan masyarakat daripada film yang menggugah perasaan penonton.
4. Anggaran lebih besar dibandingkan Pendapatan
Masyarakat mengkritik penggunaan dana sekitar Rp 6,7 hingga Rp 6,8 miliar serta mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kualitas visual dan teknis film yang belum sesuai harapan.
Produser Toto Soegriwo merespons kritik masyarakat dengan santai melalui media sosial.
Di sisi lain, jumlah tim produksi yang sangat terbatas—hanya sekitar 10 orang—menyebabkan kekhawatiran mengenai kualitas teknis dan alur cerita film tersebut.








