Jangan Terjebak Diet Ekstrem, Kecuali Diet Mono

DI tengah upaya menurunkan berat badan atau mempertahankan bentuk tubuh yang ideal, banyak orang mencoba berbagai jenis diet dan bahkan mengadopsi metode yang ekstrem untuk mengurangi asupan kalori. Termasukdiet mono?

Selain diet monoton yang terkenal namun berisiko, seperti yang dikutip dariIndependent,masih terdapat berbagai jenis diet ekstrem lainnya yang dapat mengancam kesehatan secara serius.

Read More
banner 970x90

banner 728x90

Diet ekstrem merupakan pola makan yang sangat mengurangi asupan kalori, membatasi jenis makanan tertentu, atau mengubah kebiasaan makan secara tidak sehat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dilakukan dalam jangka panjang. Meskipun bisa membuat berat badan turun dengan cepat, efek buruk yang muncul biasanya lebih besar dibandingkan manfaatnya. Berikut ini beberapa jenis diet ekstrem yang sebaiknya dihindari, sesuai dengan informasi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya.

1. Diet Bebas Gluten

Dinukil dari Siloam Hospital, jenis diet ini sebenarnya direkomendasikan bagi seseorang yang mengalami intoleransi gluten atau menderita penyakit celiac. Jika dilakukan tanpa alasan medis, diet ini justru berpotensi mengurangi konsumsi biji-bijian yang kaya akan nutrisi, serat, dan mikronutrien penting. biji-bijian memiliki peran penting dalam mencegah penyakit jantung dan diabetes dengan menurunkan kadar kolesterol serta mengontrol gula darah.

Beberapa makanan yang bebas gluten ternyata mengandung tinggi natrium, gula, dan lemak jahat yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan, gangguan kadar gula darah, serta tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, label bebas gluten tidak selalu menunjukkan bahwa makanan tersebut sehat. Untuk orang yang tidak menderita penyakit celiac atau masalah pencernaan, disarankan untuk mengonsumsi lebih banyak buah-buahan, sayuran, roti atau pasta gandum utuh, serta sumber protein rendah lemak dalam pola makan harian mereka.

2. Diet Paleo

Baca juga :  Apakah Matcha Menyebabkan Anemia?

Jenis pola makan ini bisa berdampak negatif terhadap kesehatan. Konsep diet paleo mengikuti cara makan manusia pada masa pra-sejarah yang mengonsumsi makanan alami, seperti daging, sayuran, dan ikan hasil tangkapan. Beberapa versi bahkan menyarankan untuk memakan daging atau protein mentah, yang berisiko tinggi bagi kesehatan jika bahan tidak segar atau kurang bersih. Diet ini dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti diare, sembelit, serta ketidakseimbangan bakteri usus akibat rendahnya kadar karbohidrat dan serat larut. Selain itu, kekurangan kalsium dan vitamin D berpotensi merusak kesehatan tulang. Konsumsi lemak jenuh dan protein berlebih dari daging tanpa batasan juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal, jantung, dan kanker.

3. Diet Keto

Diet keto merupakan pola makan yang membatasi asupan karbohidrat di bawah 50 gram setiap hari serta meningkatkan konsumsi lemak. Ketika tubuh kekurangan glukosa, maka akan mulai mengurai lemak dan protein sebagai sumber energi. Awalnya dikembangkan untuk pasien penderita epilepsi, kini diet ini banyak digunakan sebagai metode menurunkan berat badan. Namun, diet keto hanya disarankan untuk jangka waktu singkat, yaitu antara dua hingga tiga minggu, dengan maksimal durasi enam hingga dua belas bulan.

Jika dilakukan dalam jangka panjang, pola makan ini dapat menyebabkan efek samping berat, seperti sakit kepala, mual, muntah, masalah pencernaan, serta penurunan massa otot. Risiko lain meliputi tekanan darah yang rendah, batu ginjal, sembelit, kekurangan gizi, dan gangguan pada jantung. Diet keto juga bisa memicu isolasi sosial dan gangguan perilaku makan pada sebagian individu.

Orang yang menderita gangguan pada pankreas, hati, kelenjar tiroid, atau kandung empedu sebaiknya tidak melakukan diet ini. Pada awalnya, banyak orang mengalami “keto flu” yang ditandai dengan nyeri perut, pusing, penurunan energi, dan perubahan suasana hati akibat tubuh beradaptasi untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi utama.

4. Diet Mayo

Diet mayo mengutamakan pengurangan konsumsi garam serta makanan rendah karbohidrat. Namun, pembatasan garam menyebabkan cairan dalam tubuh cepat berkurang, sehingga penurunan berat badan terjadi bukan karena pembakaran lemak, melainkan akibat kehilangan cairan. Kondisi ini berpotensi memicu dehidrasi, rasa lesu, serta menurunnya fokus.

Baca juga :  Cedera Pergelangan Kaki: Penyebab yang Perlu Diketahui

5. Diet HCG

Dikutip dari Web MD,Diets HCG menggabungkan pembatasan kalori yang sangat ketat dengan penggunaan obat human chorionic gonadotropin (hCG), yang biasanya digunakan untuk wanita hamil. Penelitian menunjukkan bahwa obat ini tidak efektif dalam menurunkan berat badan dan memiliki risiko menyebabkan efek samping seperti kelelahan parah, mudah tersinggung, gelisah, hingga depresi. Obat ini juga dapat memicu penumpukan cairan dan pembekuan darah. Selain itu, pembatasan kalori yang ekstrem bisa merusak kesehatan.

6. Diet Cuka Apel

Beberapa orang mengonsumsi cuka sari apel sebelum makan dengan harapan menurunkan selera makan dan membantu mengurangi lemak tubuh, namun bukti yang mendukung efektivitasnya masih sangat minim. Meskipun biasanya aman, penggunaan dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi insulin dan obat tekanan darah, serta berisiko menyebabkan penurunan kadar gula darah dan kadar kalium yang rendah. Kandungan asamnya yang tinggi juga berpotensi merusak tenggorokan.

7. Diet Kafein

Minum kopi dalam jumlah banyak mungkin dapat mengurangi rasa lapar dan membantu menghabiskan kalori, tetapi tidak cukup untuk menurunkan berat badan secara signifikan. Konsumsi kafein yang berlebihan bisa meningkatkan tekanan darah, menyebabkan mual pada perut, serta mengganggu tidur. Akibatnya, berat badan yang telah turun bisa kembali naik. Selain itu, beberapa minuman berkafein mengandung kalori dan lemak yang tinggi.

8. Diet Sup Kubis

Sup yang dikonsumsi dalam program ini bermanfaat bagi kesehatan, tetapi Anda hanya diperbolehkan memakan sup beserta beberapa jenis makanan tertentu sesuai jadwal, misalnya buah pada hari pertama atau daging dan sayuran pada hari kelima. Asupan kalori dibatasi sekitar 1.000 per hari, yang bisa membuat tubuh memasuki “mode kelaparan” sehingga proses metabolisme menjadi lebih lambat. Kondisi ini justru menghambat proses penurunan berat badan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *