ngetehdw.comMerah Putih Satu untuk Semuasedang menjadi topik pembicaraan hangat di media sosial. Karena, kualitas animasi dinilai tidak sesuai dengan standar film bioskop. Bahkan beredar isu bahwa film ini didanai pemerintah hingga Rp 6,7 miliar.
Isu bahwa beberapa tokoh dalam film ini merupakan tiruan dari karya orang lain jelas menjadikan film yang rencananya tayang pada 14 Agustus sebagai bahan ejekan di dunia maya.
Setelah beberapa hari ramai dibicarakan, Produser sekaligus Sutradara Erdianto akhirnya muncul dan memberikan pernyataan untuk menjelaskan tuduhan yang ternyata hanya berupa isu belaka.
JP:Mengenai biaya produksi yang mencapai angka Rp 6,7 miliar dari pemerintah, bagaimana kebenarannya?
Erdianto:Jika memang demikian, saya sangat berterima kasih. Saya sampaikan, kami tidak menerima sedikit pun biaya (dari pemerintah).NggakBenar itu. Jadi, sifatnya adalah kerja sama, mandiri. Bukan berarti membagi uang, tapi berbagi pikiran, tenaga, dan waktu.
JP:Jadi, film itu dibuat berdasarkan ide-ide para pembuatnya?
Erdianto:Ya, animator termasuk produser kami yang terlibat. Siapa pun yang memiliki visi sama dengan kami, kami ajak, tanpa memperhatikan jumlah uang. Jadi, kami tidak mendapatkan sejumlah uang pun. Ini murni dari pengurunan potensi dan kemampuan masing-masing.
JP:Apa tujuan Anda bersama tim dalam menggarap film ini?
Erdianto:Dulu tidak pernah ada tayangan film khusus untuk 17 Agustus. Kami orang biasa yang sevisi ingin membuat film animasi khusus anak-anak mengenai proklamasi dengan cerita dan tampilan yang sederhana, tidak aneh-aneh dan tidak penuh fantasi, hanya yang masuk akal. Karena kami ingin mendidik dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
JP:Dengan anggaran yang terbatas, aliran dana dialokasikan ke bagian mana?
Erdianto:Biaya kami terbesar yang tidak dapat dibayarkan dengan ucapan terima kasih untuk DCP (Digital Cinema Package) sama poster.
JP:Apakah Anda sendiri merasa puas dengan hasil akhirnya?
Erdianto:Meskipun terdapat berbagai pendapat pro dan kontra, meski ada yang mengatakan kualitasnya buruk dan tidak layak, kami tetap (bangga). Inilah sumbangan kami sebagai pekerja kreatif di dunia perfilman. Kami ingin yang lain terpicu agar mereka juga ikut berkontribusi tahun depan. Jika membicarakan kualitas, tidak ada patokan pasti, tetapi memang kami merancang dari awal. Itu baik dalam hal narasi visualnya sesuai untuk anak-anak kecil.
JP:Akhirnya banyak pengguna internet yang merekayasa ulang animasi film ini agar lebih halus menggunakan AI. Bagaimana pendapat Anda?
Erdianto: Bagus, artinya mereka notice, peduli. Jika mereka merasa mampu, lebih baik segera melaksanakan, berikan kontribusi untuk proklamasi tahun depan. Bukan hanya sekadar memasang bendera atauoutfit merah putih.
JP:Ada juga isu yang menyebut bahwa karakternya didapatkan dari platform luar negeri, bahkan meniru karya orang lain tanpa izin. Benarkah demikian?
Erdianto:Secara teknis tidak ada animasi yang dilakukan secara manual, semuanya sudah digital terlepas dari platformnya. Sekarang sudah menggunakan IT, itulah dampaknya mempermudah segalanya. Namun karakter-karakter yang ada kami mulai (membuat) beberapa konsepnya.. NggakSesuai dengan harapan, ada beberapa hal yang mungkin belum sepenuhnya sesuai, maka perlu diubah. Kami semua melakukan diskusi. Artinya, karakter tersebut tetap dibangun oleh anak-anak animasi dengan berbagai cara.
JP: Apa saja kendala yang dialami saat memperkenalkan film ini ke layar lebar?
Erdianto:Pihak XXI tidak menerima secara langsung. Bukan ditolak, tetapi ditolak untuk direvisi terlebih dahulu. Namun kami tetap bersikeras, XXI ingin memutar syukut, jika tidak maka kami akan ke yang lain. Tidak ada yang mau, jadi kami tayangkan sendiri di platform digital. Ada juga TV streaming dan YouTube.
JP:Di XXI berapa layar yang tersedia?
Erdianto:Kami diberi kesempatan untuk memilih, akhirnya kami memilih beberapa hanya 10 layar di awal. Dengan Sam Sam Studio kami diberikan semua, tetapi kami berpikir sesuai dengan kemampuan kami, jadi kami hanya mengambil 6 layar. CGV dan Cinepolis menawarkan hingga luar pulau, tapi kami belum bisa karena keterbatasan (biaya).
JP:Tetapi, pihak CGV telah memutar trailer di akun media sosial resmi mereka, lalu bagaimana dengan hal itu?
Erdianto:Kami mohon maaf kepada CGV dan Cinepolis. Bukan kami tidak ingin, kami sangat menginginkannya, tetapi keterbatasan dana yang ada. Sangat disayangkan memang kami berjuang sendiri tanpa nama besar,corporate atau organisasi besar.








